jepang merupakan negara perantauan pertama ku. Sebelum ini tak pernah beranjak dari tanah airku tercinta. Di sini aku memiliki misi khusus untuk memperoleh ilmu dari negeri yang terkenal dengan shinkansen dan kemajuan teknologi nya ini. Aku mengambil program master di salah satu universitas negeri di pulau Kyushu. dari perantauan ini, aku mendapatkan banyak hal baru. Selain pelajaran kuliah, aku juga mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Maklum saja, karena disini aku harus berhadapan dengan banyak sekali type manusia dengan berbagai macam karakteristik, dari berbagai negara, dan dari berbagai latar belakang agama. Jadi, aku diajarkan untuk memiliki rasa toleransi yang tinggi oleh lingkungan sekitarku. kami harus bisa saling menghargai segala perbedaan yang kita miliki. Hal seperti ini lah yang sedikit aku dapat kan pada saat aku hidup di tanah kelahiran ku.
Di kota ini, cukup banyak mahasiswa asing. Aku sendiri memiliki banyak teman asing, mayoritas teman-teman ku berasal dari jepang dan negara-negara asia tenggara. Ada pula beberapa teman dari daratan eropa. Teman setanah air ku juga tak kalah banyaknya. Jumlahnya mencapai sekitar 50 orang termasuk mahasiswa s1,s2,s3 baik fulldegree maupun exchanged student. 70 persen adalah mahasiswa laki-laki. Dan aku termasuk 30 persen sisanya. Semua mahasiswa Indonesia di kota ini aku kenal. Dari semuanya, ada satu orang mahasiswa doctoral tingkat akhir yang biasa dipanggil dengan sebutan mbak Ima.
Setibanya aku di sini, mbak Ima lah orang yang pertama kali mengenalkanku sebuah restoran yang menyajikan makanan aman dikonsumsi oleh muslim seperti kami. Maklum saja, di negara ini hampir semua makanannya mengandung sake, mirin ataupun babi. Jujur saja, pada pertemuan pertama, aku sudah kagum dengan sosok ini. Sosok wanita yang menggenakan pakaian dan hijab syar`i dengan pembawaan yang sangat santun dan bersahaja, ditambah lagi dia adalah mahasiswa s3 dengan umur yang masih muda. Jadi tidak salah kan jika aku menyebutnya dengan sebutan `perfect girl`, sekalipun aku tau tak ada manusia yang sempurna.
Aku tidak pernah menyangka jika aku dapat berteman baik dengannya. Jangankan berteman, hanya untuk sekedar berbincangpun aku sungkan. Wajar saja jika menengok pada diriku sendiri. Aku belum bisa berhijab syar`i. Aku pun belum bisa menjaga lisanku dengan baik. Maklum saja karena teman-temanku didominasi oleh kaum adam. Apalagi pada perbincangan pertama kami, mbak Ima terlihat serius.
Rupanya aku salah dalam menilai sosok yang satu ini. Di beberapa perbincangan berikutnya aku tau kalau dia tidak seserius yang aku bayangkan. Hingga aku mulai tak sungkan lagi untuk membuka obrolan dengan nya di pertemuan-pertemuan berikutnya. Semakin kesini, aku tahu jika dia termasuk orang yang cukup terbuka, enak diajak ngobrol, dan ternyata dia lumayan bisa mengimbangi guyonanku.
not bad.....
Dari hari ke hari kami semakin dekat saja, aku mulai tidak sungkan untuk sekedar berdiskusi, sharing, bercanda bahkan aku mulai menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi. Dia selalu memberikan respon-respon positif kepadaku. Tak jarang juga dia memberikan nasihat-nasihat simple. Masih segar dalam ingatanku, dia sering memberi ku nasihat tentang bagaimana cara bertoleransi, cara berteman dengan lawan jenis, dan bagaimana cara agar aku bisa meredam emosi ku.
Dari situlah, baru aku sadari jika penilaian pertamaku ke mbak ima salah. Walaupun begitu, aku tetap mengaguminya. Aku begitu menyayangi mbak Ima, dia sudah kuanggap sebagai kakak perempuan ku sendiri. Dia juga termasuk salah satu faktor yang ikut andil dalam metamorfosis kehidupanku menuju arah yang lebih baik. Dan sekarang kami sedang bersama-sama berjuang untuk menuntaskan kewajiban kami. Di negeri rantau ini kami bersama untuk saling menguatkan satu sama lain ditengah deru ombak kehidupan yang kuat menyapu.
belajar menulis
Selasa, 15 Maret 2016
Senin, 07 Desember 2015
"Dingin," gumamku dalam hati sambil merapatkan coat musim dingin yang sedang aku kenakan. musim dingin di negri rantau ini telah datang. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepatnya, ini kali kedua ku melalui musim dingin di negeri yang terkenal dengan robot dan anime nya. Sejenak aku terdiam untuk mengingat masa-masa yang telah aku lalu. Rasanya baru kemarin aku memakai seragam putih abu-abu dan menuliskan semua mimpi ku di birunya langit tanpa ragu. Satu persatu mimpi itu terwujud. Begitu banyak luka yang aku alami di tengah perjalanan mendapatkan mimpi itu, tapi tidak sedikit pula tawa yang tercipta. Sekarang aku ada di sini, aku tengah memperjuangkan mimpiku yang lain. Sempat terbersit oleh ku untuk berhenti berjuang menggapai mimpiku, karena aku merasa lelah dan taksanggup lagi. Tapi, aku lihat lagi mimpi ku yang masih menggantung di birunya langit. kulihat sekelilingku, orang-orang yang menyayangiku tak pernah berhenti mendukungku untuk tetap bisa melompat lebih tinggi untuk meraih mimpi itu.
Jumat, 25 September 2015
TIKA 3
Dear Diary
Aku bingung, hari ini adalah hari jadi sahabatku yang bernama TIKA. ya,,, aku baru bertemu dia sekitar 6 bulan yang lalu. Aku kenal dengan nya karena kita kuliah di universitas yang sama, tapi beda jurusan. Dia orang nya asyik. Awal ketemu, dia agak pendiam dan bisa dibilang sombong gitu lah. Tapi setelah kenal, image itu kan hilang. Ternyata dia gila,hahahah..... Dia sangat ekspresif. Ketawa itu lho yang bikin malu aj, gimana enggak sekalinya ketawa, orang satu kelurahan denger. Dahsyat lah pokoknya. Secara fisik dia lumayan oke, wajahnya cantik, kulitnya kuning langsat, badannya kurus tinggi gitu, tapi sayang dia berkumis.....heheheh.... Dia orang nya cukup sabar, cuma kadang aku suka sebel kalu ngomong sama dia itu suka blank momentnya gitu. Jadi aku udah crita dari A sampai Z eh dia nanya F, kan capek ya harus ngulang lagi. Di sini aku punya beberapa sahabat, rata-rata sih seumuran gitu. Kita suka hang out bareng dengan naik speda atau jalan kaki. Kita suka kuliner dan suka karaokean bareng. Nah, kalau pas karaokean bareng ini, yang membuat kita agak gimana gituu sama dia, nyanyi nya lebay banget, lebih lebay dari pada penyanyi aslinya. music udah berhenti, masih aja dia nyanyi. Tapi gimanapun dia, kita saling melengkapi, saling memberi support, saling menguatkan satu sama lain, maka dari itu kita bersahabat. Oh ya balik laagi ke hari jadinya, kalian ada ide gak, kado apa yang cocok sama dia?? Ya udaah lah sambil nunggu saran dari kalian, aku ucapkan SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 2? wish u all the best pokoknya.
Aku bingung, hari ini adalah hari jadi sahabatku yang bernama TIKA. ya,,, aku baru bertemu dia sekitar 6 bulan yang lalu. Aku kenal dengan nya karena kita kuliah di universitas yang sama, tapi beda jurusan. Dia orang nya asyik. Awal ketemu, dia agak pendiam dan bisa dibilang sombong gitu lah. Tapi setelah kenal, image itu kan hilang. Ternyata dia gila,hahahah..... Dia sangat ekspresif. Ketawa itu lho yang bikin malu aj, gimana enggak sekalinya ketawa, orang satu kelurahan denger. Dahsyat lah pokoknya. Secara fisik dia lumayan oke, wajahnya cantik, kulitnya kuning langsat, badannya kurus tinggi gitu, tapi sayang dia berkumis.....heheheh.... Dia orang nya cukup sabar, cuma kadang aku suka sebel kalu ngomong sama dia itu suka blank momentnya gitu. Jadi aku udah crita dari A sampai Z eh dia nanya F, kan capek ya harus ngulang lagi. Di sini aku punya beberapa sahabat, rata-rata sih seumuran gitu. Kita suka hang out bareng dengan naik speda atau jalan kaki. Kita suka kuliner dan suka karaokean bareng. Nah, kalau pas karaokean bareng ini, yang membuat kita agak gimana gituu sama dia, nyanyi nya lebay banget, lebih lebay dari pada penyanyi aslinya. music udah berhenti, masih aja dia nyanyi. Tapi gimanapun dia, kita saling melengkapi, saling memberi support, saling menguatkan satu sama lain, maka dari itu kita bersahabat. Oh ya balik laagi ke hari jadinya, kalian ada ide gak, kado apa yang cocok sama dia?? Ya udaah lah sambil nunggu saran dari kalian, aku ucapkan SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 2? wish u all the best pokoknya.
TIKA 2
23 tahun merupakan umur yang cukup matang, begitu kata orang. 23 tahun itu umurku sekarang. Selama 23 tahun juga aku sudah merepotkan mama dan papaku. Selama 23 tahun pula aku telah hidup di dunia ini. Tapi selama ini apa yang telah aku kerjakan. Seingatku dalam perjalanan hidupku selama 23 tahun ini aku tidak pernah memberikan kontribusi apapun ke lingkungan sekitar ku, tapi paling tidak akhir- akhir ini aku sudah tidak terlalu bergantung pada orang lain yang artinya aku tidak merepotkan orang lain. Bagaimana tidak sekarang ini aku harus bisa survive sendiri karena selama 6 bulan trakhir ini aku tinggal di negeri orang untuk menambah ilmu. Aku harus masak sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri,semuanya serba sendiri mirip lah sama lagu dangdut ANGKA SATU. Tapi itu tak jadi soal, karena dengan begitu aku terlatih untuk menjadi seorang istri idaman. Jadi kalau-kalau aku bertemu dengan jodoh ku nanti, aku gak malu-maluin di depan ibu mertua karena tak bisa masak dan ngurus rumah. Setelah kupikir-pikir ternyata banyak juga ya pelajaran hidup yang aku dapat disini. Sayang kali ini aku tidak bisa merayakan hari jadi ku bersama mama papa kakak dan adik ku tersayang. Tak apa lah, bukan itu yang terpenting karena yang terpenting adalah doa dan restu orang tua ku. Hmmm....sudah ah, aku tak mau membahas ini bukan karena aku tak sayang tapi karena aku tak mau larut dalam air mata kangen yang menetes di pipi. Lagian disini aku punya teman-teman yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri karena mereka sangat baik dengan ku.
Oh ya walaupun saat ini aku masih tidak punya apa-apa yang bisa aku banggakan, tapi aku masih punya mimpi yang akan aku kejar. Mimpi yang masih on going untuk aku raih. Mimpi kalau yang nantinya jadi kenyataan akan dapat membuat negara ku bangga karena telah memiliki ku sebagai generasi mudanya. Atau paling gak membuat orang tua ku tidak menyesal telah memiliki anak sepertiku.
Kalian udah mulai bosen ya sama tulisan ku ini. Oke sebelum aku akhiri, aku mau ngucapin thanks to Allah SWT yang terus bersamaku dan selalu menolongku selama ini, mama n papa ku yang tak pernah menyesal telah membesarkan ku, adik n kakak ku yang sayang ke aku, guru-guru dan dosen-dosen yang telah membagi ilmunya, teman teman serta sahabat2 ku yang gak mungkin aku sebutin karena jumlah kalian yang terlalu banyak. Pokok nya terimakasih sebanyak-banyaknya buat semuanya. Oh ya kita belum berkenalan kan? Namaku Tika, mahasiswa S2 yang sedang pusing denga penelitian dan gak pernah galau dengan urusan cinta. See u.....
Oh ya walaupun saat ini aku masih tidak punya apa-apa yang bisa aku banggakan, tapi aku masih punya mimpi yang akan aku kejar. Mimpi yang masih on going untuk aku raih. Mimpi kalau yang nantinya jadi kenyataan akan dapat membuat negara ku bangga karena telah memiliki ku sebagai generasi mudanya. Atau paling gak membuat orang tua ku tidak menyesal telah memiliki anak sepertiku.
Kalian udah mulai bosen ya sama tulisan ku ini. Oke sebelum aku akhiri, aku mau ngucapin thanks to Allah SWT yang terus bersamaku dan selalu menolongku selama ini, mama n papa ku yang tak pernah menyesal telah membesarkan ku, adik n kakak ku yang sayang ke aku, guru-guru dan dosen-dosen yang telah membagi ilmunya, teman teman serta sahabat2 ku yang gak mungkin aku sebutin karena jumlah kalian yang terlalu banyak. Pokok nya terimakasih sebanyak-banyaknya buat semuanya. Oh ya kita belum berkenalan kan? Namaku Tika, mahasiswa S2 yang sedang pusing denga penelitian dan gak pernah galau dengan urusan cinta. See u.....
TIKA 1
"Alhamdulillah Ya Allahhhh.....yeay" begitu teriak Tika ketika selesai membaca email dari sebuah universitas negeri di negeri matahari. Rupanya dia berhasil mendapatkan beasiswa untuk program studi master di sana. Sambil tak bisa menahan airmata harunya dia lari berkeliling rumah mencari ibunya. Ternyata sang ibu tengah duduk di ruang tengah sambil menonton acara TV kesayangannya. "Ma.....lihat ini, Tika lulus ma. Tika bakal sekolah di Jepang ma. Di negerinya doraemon ma. Ini semua karena doa mama. Makasih ma," dengan mata yg berkaca-kaca tika mencium tangan ibu nya. "Alhamdulillah nak. Tapi kamu jangan lebay dong, seneng sih seneng tapi ingusmu lho nempel di tangan mama, hahaha," goda sang mama untuk menghibur putrinya yang hampir menangis itu." Ah...mama gak seru, mana ada ingus sih, lagian aku lagi bahagia ini masih juga diledekin," jawab Tika dengan nada pura-pura merajuk. Kemudian sang mama menarik badan putrinya kedalam pelukannya," Iya...iya... Mama seneng kok Tika bisa sekolah lagi disana, mama bangga punya anak seperti kamu. Tapi mama juga sedih...," sambil menarik nafas dalam, mama melepas pelukannya dan melihat muka anaknya."Mama sedih ya karena aku bentar lagi bakal pergi, jangan sedih ma...kan masih ada adik sama kakak, disana aku pasti akan ingat mama terus, pasti kangen mama," sahut tika sebelum sempat mamanya menuruskan kata-kata. " bukan, mama sedih karena karena kamu kan gak bisa masak trus kamu makan apa, ntar kamu ngerepotin orang lagi, gak bisa irit juga," terus sang mama sambil terkekeh." Apaan sih ma...," jawab tika sambil memonyongkan bibirnya. " bener kan nduk....lha wong dirumah aja kamu gak pernah bantuin mama masak, disuruh goreng ikan aja teriak-teriak sampai terdengar di rumah Bu Edi. Kan kalau kamu tinggal di sana nanti kan gak mungkin kamu makan di luar terus, jadi mau gak mau kamu harus bisa masak. Tapi mama juga seneng sih kamu bisa sekolah di sana, biar kamu belajar hidup mandiri, biar bisa lebih menghargai semuanya." Terdiam sejenak, sambil melihat wajah anaknya yang khusyuk mendengarkan petuah sang mama, kata mama kemudian," sudah sana tidur, besok pagi kita jemput papa di bandara. Nanti ceritakan ke papa, pasti papa senang". Tak lama kemudian tika beranjak dari sofa ruang tengah menuju ke kamar tidurnya. Malam itu pun Tika tersenyum bahagia dalam tidurnya.
Keesokan harinya, Tika dan mama saja yang pergi ke bandara untuk menjemput papa. Setibanya dibandara, mereka langsung menuju pintu kedatangan dan di sana sudah tampak seorang laki-laki berbadan tegap dengan mengenakan polo shirt yang dipadukan dengan celana jeans." Papa....," teriak tika sambil berhambur menuju pelukan sang papa. " aku rindu papa," lanjutnya. "Papa juga rindu, kemana yang lain? Adik dan abangmu?"sahut papa. " mereka sedang tidur pulas, tak tega aku membangunkannya," kata mama seraya mencium tangan papa. Di perjalan dari bandara sampai kerumah nya, Tika menceritakan bahwa dia akan pergi ke Jepang 3 bulan lagi. Dan seperti ramalan mama, papa sangat senang dengan berita itu.
Hari demi hari berlalu, visa dan keperluan lainnya telah disiapkam oleh Tika. Tak terasa esok malam dia akan berangakat menjemput impiannya. "Malam ini, malam terakhir Tika buat makan malam bersama mama, papa, kakak, dan adik. Tika seneng karena Tika bakal belajar disana, tapi Tika takut kalau Tika rindu sama kalian semua." Ucapnya pada saat makan malam bersama keluarga." Alhamdulillah, kak Tika bakal segera berangkat, kak Adit bakal balik ke Surabaya. Aku bakal jadi anak tunggal, yeeeyyyy....." Ucap sang adik sambil tertawa nakal dan semua pun ikut tertawa mendengar kelakar si bungsu. Tiba akhirnya Tika mengucap perpisahan ke semua keluarga yang ikut mengantarkannya di bandara. Nenek Tika tak sanggup menahan air mata ketika melepas cucunya yang manja itu. " Kamu baik-baik disana ya sayang, jangan lupa sholat, jaga kesehatan, makan yang banyak ya?" petuah sang nenek. " iya nek," seraya mencium tangan dan pipi neneknya. Pesan yang hampir sama pun di ucapkan oleh kedua oraang tua Tika.
Perasaan sedih dan bahagia bercampur aduk di dalam benak Tika ketika kapal terbang yang iya naiki baru saja take off. Sambil melihat keluar jendela, Tika mengingat petuah dari keluarganya dan rasa rindu hinggap di benaknya, tak ayal air mata Tika pun meleleh di pipinya. Perjalanan cukup panjang harus ditempuh Tika, wajar Tika pun merasa sangat lelah tetapi rasa lelah itu hilang begitu saja begitu sampai di negeri yang mahsyur akan kecanggihan teknologinya itu. Sesampainya dia sampai di kota tempat ia akan tinggal, udara sejuk dan angin sepoi sepoi menerpa menyentuh lembut seluruh tubuhnya. Di luar bandara telah tampak seseorang perempuan jepang yang membawa selembar kertas bertuliskan namanya. Tika pun langsung berjalan menuju ke arah gadis itu. Kemudian mereka saling berkenalan sambil berjalan menuju taksi. Di dalam perjalan dari bandara ke dormitory, mereka terlibat dalam obrolan ringan seputar perjalanan Tika. " Di sini lah, awal dari impian ku, Bismillah," katanya di dalam hati sewaktu melihat kampusnya dari dalam taksi.
Bersambung...
Keesokan harinya, Tika dan mama saja yang pergi ke bandara untuk menjemput papa. Setibanya dibandara, mereka langsung menuju pintu kedatangan dan di sana sudah tampak seorang laki-laki berbadan tegap dengan mengenakan polo shirt yang dipadukan dengan celana jeans." Papa....," teriak tika sambil berhambur menuju pelukan sang papa. " aku rindu papa," lanjutnya. "Papa juga rindu, kemana yang lain? Adik dan abangmu?"sahut papa. " mereka sedang tidur pulas, tak tega aku membangunkannya," kata mama seraya mencium tangan papa. Di perjalan dari bandara sampai kerumah nya, Tika menceritakan bahwa dia akan pergi ke Jepang 3 bulan lagi. Dan seperti ramalan mama, papa sangat senang dengan berita itu.
Hari demi hari berlalu, visa dan keperluan lainnya telah disiapkam oleh Tika. Tak terasa esok malam dia akan berangakat menjemput impiannya. "Malam ini, malam terakhir Tika buat makan malam bersama mama, papa, kakak, dan adik. Tika seneng karena Tika bakal belajar disana, tapi Tika takut kalau Tika rindu sama kalian semua." Ucapnya pada saat makan malam bersama keluarga." Alhamdulillah, kak Tika bakal segera berangkat, kak Adit bakal balik ke Surabaya. Aku bakal jadi anak tunggal, yeeeyyyy....." Ucap sang adik sambil tertawa nakal dan semua pun ikut tertawa mendengar kelakar si bungsu. Tiba akhirnya Tika mengucap perpisahan ke semua keluarga yang ikut mengantarkannya di bandara. Nenek Tika tak sanggup menahan air mata ketika melepas cucunya yang manja itu. " Kamu baik-baik disana ya sayang, jangan lupa sholat, jaga kesehatan, makan yang banyak ya?" petuah sang nenek. " iya nek," seraya mencium tangan dan pipi neneknya. Pesan yang hampir sama pun di ucapkan oleh kedua oraang tua Tika.
Perasaan sedih dan bahagia bercampur aduk di dalam benak Tika ketika kapal terbang yang iya naiki baru saja take off. Sambil melihat keluar jendela, Tika mengingat petuah dari keluarganya dan rasa rindu hinggap di benaknya, tak ayal air mata Tika pun meleleh di pipinya. Perjalanan cukup panjang harus ditempuh Tika, wajar Tika pun merasa sangat lelah tetapi rasa lelah itu hilang begitu saja begitu sampai di negeri yang mahsyur akan kecanggihan teknologinya itu. Sesampainya dia sampai di kota tempat ia akan tinggal, udara sejuk dan angin sepoi sepoi menerpa menyentuh lembut seluruh tubuhnya. Di luar bandara telah tampak seseorang perempuan jepang yang membawa selembar kertas bertuliskan namanya. Tika pun langsung berjalan menuju ke arah gadis itu. Kemudian mereka saling berkenalan sambil berjalan menuju taksi. Di dalam perjalan dari bandara ke dormitory, mereka terlibat dalam obrolan ringan seputar perjalanan Tika. " Di sini lah, awal dari impian ku, Bismillah," katanya di dalam hati sewaktu melihat kampusnya dari dalam taksi.
Bersambung...
Selasa, 16 September 2014
catatan hati
Pada saat aku duduk dibangku sekolah (SD,SMP, SMA) aku tidak pernah merasakan jatuh cinta atau suka dengan lawan jenis. Mungkin karena aku termasuk orang yang gak bisa memecah konsentrasi sehingga aku memilih untuk konsen ke prestasi belajarku saja dan mengabaikan sekitarku (yah...bisa dibilang "kuper"). Gimana bisa mikir yang macem-macem, lha setiap harinya aja aku udah capek dengan latihan soal-soal, belum lagi dengan pekerjaan rumah yang cukup menyita waktuku.
Setelah masuk ke perguruan tinggi, aku tetep aja sibuk dengan tugas-tugas dan penyesuaian cara belajarku. Jujur aja, pada saat awal masuk, aku makin sibuk dan gak kepikiran sama sekali tentang naksir lawan jenis. Sampai-sampai teman-teman ku bertanya apakah aku normal?? Ya tentu masih normal lah, aku aja masih suka liat cowok ganteng di TV.
Sebagai cewek, bisa dibilang aku adalah cewek yang cukup mandiri, karena selama aku masih bisa mengerjakan, buat apa minta bantuan orang lain. karena itu adalah kebiasan yang ditanamkan sama orang tua ku terutama bapakku. Aku juga selalu asyik dengan urusanku sendiri. Gimana enggak, aku pernah nolak cowok gara-gara aku terlalu konsen dengan bakso yang ada dimangkokku sehingga aku gak denger apa yang dia omongin, pas dia tanya "iya apa gak?" ya enteng aja aku jawab "enggak". Padahal dia cowok yang sangat baik, alim, dan pinter. Agak nyesel sih nolak orang sebaik itu. Tapi ya sudahlah, mungkin belum jodoh. Dan lagi itu salah nya dia sendiri, nembak ditempat rame dan pas aku lagi konsen ke semangkok bakso yang sangat menggoda.
Hingga akhirnya di semester berikutnya, aku mulai deket dengan teman cowok. Yah,,,,seperti biasa, aku tidak merasa ada sesuatu yang istimewa dengan dia, sama seperti teman-temanku yang lain. Dia termasuk orang yang pendiam, jarang punya temen (dikampusku), dan pinter. Ntah kenapa pada semester tua, dia sering bareng sekelas dengan ku dan sekelompok pula. Kalau aku sih seneng-seneng aja kan dia pintar, jadi aku santai aja kalau ada tugas kelompok. Nah dari situ aku mulai dekat dengannya. Awalnya sih cuma ngobrol tentang bahan kuliah, tapi lama kelamaan kita mulai saling ejek, ketawa bersama, dan dia mulai suka usilin aku trus bikin aku ngomel. Pada saat dia tersenyum puas ketika aku ngomel, ketika itu pula aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku juga tidak bisa mendeskripsikan perasaanku itu. Aneh, yang biasanya aku paling males sama orang yang jahil tapi kali ini aku malah seneng banget dijahilin (ya walaupun aku tetep ngomel juga). Dan entah sengaja atau enggak, aku merasa kalau dia makin seneng ngejahilin aku. Walaupun begitu aku mulai merasa nyaman dan senang di dekatnya.
Ntah kapan tepatnya aku mulai merasa nyaman dengannya? dan mengapa aku nyaman dengannya? mungkin karena aku merasa anggap sebagai perempuan (maklum teman-teman ku yang lain selalu merasa kalau aku ini bukan cewek) atau karena dia selalu mendengarkan apa yang aku katakan atau karena dia suka menjahili aku? Ntah lah...yang jelas aku nyaman sekali kalau aku didekatnya, dan rasa seperti ini belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Apakah itu yang disebut cinta?apakah ini rasanya jatuh cinta? tapi perasaan itu segera saja aku tepis karena aku tau diri, siapa diriku dan siapa dia. Bagaikan kaki gunung dan puncak gunung. Selain itu ada benteng kokoh diantara kita yaitu keyakinan. Awalnya aku berusaha untuk menepis rasa itu, aku tetap berharap perasaan itu bukan cinta tapi sekedar teman ataupun sahabat. Tapi semakin aku tepis rasa itu semakin kuat pula rasa itu. Meskipun rasa itu semakin kuat aku tidak mau mengakui kalau itu cinta. Mungkin pada saat itu aku masih takut dan ragu dengan perasaan itu atau aku gengsi untuk mengakui perasaan itu? Jujur saja pada saat itu aku takut untuk merasakan sakitnya patah hati. Aku tidak mau ambil resiko itu, karena kata teman-temanku " sakit hati atau patah hati itu rasa sakit banget dan bikin orang gak selera buat makan."
Lalu aku putuskan saja kalau aku hanya ingin menganggap dia sebagai teman biasa. Okey.....aku mulai pasang aksi cuek luar biasa kalau ada dia. Aku tetep bersikap normal layaknya sikapku ke teman-temanku yang lain. Buat seminggu pertama sih oke, nah minggu berikutnya kita mulai sering berinteraksi lagi (maklum tugas kita mulai banyak). Secara kebetulan kita sering banget duduk bersebelahan. Hingga pada suatu ketika pada saat kita berdua lagi asyik mengomentari presentasi yang di depan kelas, tiba-tiba dia berkata " kamu itu cewek yang kuat". Sontak saja aku kesal dan menjawab "apa maksud kamu?gara-gara aku gendut??" (maklum namanya juga cewek, suka sensitif). Lalu dia menjawab dengan santainya " bukan gitu maksudku, maksudku kamu itu cewek yang tangguh, gak manja kayak cewek lain." Aku pun diam dan tersipu malu. Ya...kata-kata itu yang membuat perasaan yang aku kubur kini hidup kembali.
Semakin ke sini, dia suka berkomentar tentang diriku dan aku malah suka akan komentarnya. Aku selalu saja menuruti apa yang dia sarankan tanpa adanya perlawanan walaupun saran itu bertentangan dengan ku. Padahal biasanya aku sangat keras kepala dan paling tidak suka dengan pendapat yang berbeda denganku, orang yang memberiku saran harus menyertakan alasan yang logis bagiku dan melalui perdebatan sengit tentunya.
Akhirnya egoku mengalah pada perasaanku, dari situlah aku mengakui jika aku jatuh cinta dengannya. Akupun mulai bercerita kepada tiga sahabatku. Mereka agak kaget karena dari dulu aku paling benci sama orang seperti dia, tapi sekarang aku bisa menaruh hati padanya. Mereka mencegahku untuk jatuh cinta kepadanya karena aku dan dia sangat berbeda. Mereka tidak ingin aku sakit hati. Ya, sebenarnya aku pun sangat menyadari hal itu tapi jika hati sudah berbicara apalah daya kita. Mungkin ini yang dinamakan cinta buta. Logika ku sangat lemah kalau didekatnya. Aku berusaha memungkiri jurang pemisah diantara kita. Aku juga sering berpikir bahwa suatu saat nanti kita dapat bersatu. Tapi semua itu runtuh, ketika aku mendapati kalau dia akan pergi. Terlambat sudah aku menyadari perasaan itu. Dia sudah akan pergi, dan kita akan berpisah dalam waktu kurang dari satu bulan.
Sakit rasanya memendam cinta, belum sempat aku ungkapkan.
Ingin sekali aku ungkap semua rasa yang ada di hatiku. Andai saja aku bisa, sayangnya kenyataan tak berkata demikian. Bibir ini sangat gengsi untuk berucap apa yang sebenarnya. Tak terasa dua minggu lagi kita akan benar-benar berpisah. Hingga saat itu pun aku tak ingin bertemu dengannya. Aku takut akan semakin sakit jika dia sudah benar-benar pergi.
bagaikan petir disiang bolong, aku melihat ada pesan masuk dari dia. Rupanya dia mengajakku makan bersama teman-teman, yah bisa dibilang farewell party. Tanpa ragu aku mengiyakan ajakkannya. Setibanya di rumah makan tersebut, aku tak melihat ada sosok nya atau pun teman-temanku, apakah aku salah tempat? atau salah hari?mungkin salah jam? Kulihat lagi pesan singkat darinya, semuanya sudah benar. Tapi kenapa semuanya belum ada yang hadir? Sekitar 5 menit aku tunggu, tak lam kemudian aku melihatnya dari arah parkiran menuju ke arahku. Begitu dia sudah di depan ku, aku bertanya mana yang lain? Diapun juga bingung, karena ternyata dia hanya mengundangku saja. seketika itu pula langsung aku merasa salah tingkah saat mengetahui hal itu. apa aku gak salah denger? apa maksudnya? okay, aku harus tenang, gumamku di dalam hati. Kami pun segera menempati sebuah meja kosong, yang terletak agak jauh dari pengunjung yang lainnya. kami pung langsung memesan makanan ini itu. Sambil menunggu makanannya keluar, kami berbincang kesana kemari, dari mulai membicarakan teman-teman, dosen hingga membicarakan pelajaran. Pembicaran kami pun tetap berlanjut pada saat makanan sudah datang, sesekali tawa pun ikut menghiasi pembicaraan kami. Semua itu berjalan begitu hangat sampai pada saat dia menyatakan perasaannya. Aku tertegun mendengar semua itu, hampir tak bisa kupercaya semua kata-kata yang keluar dari bibirnya. Suasana yang tadinya ceria menjadi kelabu. Mau tak mau aku pun menceritakan tentang perasaanku pada nya. Aku mengakui kalau aku menaruh hati padanya, begitu pula dia ke aku. Baru saja dia mengangkut ke langit, kemudian dia menjatuhkan ku lagi kebumi. Itulah perasaanku pada saat dia bilang," sekarang aku tahu apa yang kamu rasa, begitu pula aku. Tapi bagaimanapun kita tahu kalau kita tak mungkin bersama. Sekalipun kita bersama, itu akan sulit, tentangan dari keluarga pasti besar. Kita bukan anak ABG yang menjalin hubungan tanpa berpikir dimana muaranya. Aku hanya ingin kamu tau kalau aku ini menyayangimu, tapi cukup hanya sampai disini." Kalimat-kalimat itu terus terngiang dalam benakku.
Itulah terakhir kali aku bertemu dengannya. Aku memang tidak mengantarnya ke bandara. Aku hanya mengirimkan pesan singkat semalam sebelum keberangkatannya.
rasa sayang itu masih kusimpan di dalam hati, ku bawa rasa itu untuk menemani hari-hariku tanpanya dan aku harap rasa itu akan membuatku semakin kuat dalam mengarungi samudra kehidupan. Mau tidak mau, aku mengakui kalau ada sesuatu yang hilang dalam hidupku yaitu dia. Aku merasa rindu saat-saat dia menjahili ku, aku kangen melihat senyum puasnya saat aku ngomel, dan aku rindu dengan komentar pedasnya. Tapi yang paling aku rindukan adalah kehadirannya.
Masa lalu, hanyalah masa lalu. Kini perasaan itu mulai memudar, mungkin karena sekarang aku semakin sibuk saja. Hmm...tapi ya sudah lah kita sudah memiliki kehidupan kita masing-masing. Sekali lagi, itu yang dinamakan cinta, kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta dan kapan cinta itu datang dan bersemi dihati kita. Dan aku tidak menyesal jatuh cinta kepadanya karena dia, aku memiliki catatan hati. Serta karena dia pula aku apa itu cinta, bagaimana rasa manis dan pahitnya cinta walau hanya secuil saja.
Setelah masuk ke perguruan tinggi, aku tetep aja sibuk dengan tugas-tugas dan penyesuaian cara belajarku. Jujur aja, pada saat awal masuk, aku makin sibuk dan gak kepikiran sama sekali tentang naksir lawan jenis. Sampai-sampai teman-teman ku bertanya apakah aku normal?? Ya tentu masih normal lah, aku aja masih suka liat cowok ganteng di TV.
Sebagai cewek, bisa dibilang aku adalah cewek yang cukup mandiri, karena selama aku masih bisa mengerjakan, buat apa minta bantuan orang lain. karena itu adalah kebiasan yang ditanamkan sama orang tua ku terutama bapakku. Aku juga selalu asyik dengan urusanku sendiri. Gimana enggak, aku pernah nolak cowok gara-gara aku terlalu konsen dengan bakso yang ada dimangkokku sehingga aku gak denger apa yang dia omongin, pas dia tanya "iya apa gak?" ya enteng aja aku jawab "enggak". Padahal dia cowok yang sangat baik, alim, dan pinter. Agak nyesel sih nolak orang sebaik itu. Tapi ya sudahlah, mungkin belum jodoh. Dan lagi itu salah nya dia sendiri, nembak ditempat rame dan pas aku lagi konsen ke semangkok bakso yang sangat menggoda.
Hingga akhirnya di semester berikutnya, aku mulai deket dengan teman cowok. Yah,,,,seperti biasa, aku tidak merasa ada sesuatu yang istimewa dengan dia, sama seperti teman-temanku yang lain. Dia termasuk orang yang pendiam, jarang punya temen (dikampusku), dan pinter. Ntah kenapa pada semester tua, dia sering bareng sekelas dengan ku dan sekelompok pula. Kalau aku sih seneng-seneng aja kan dia pintar, jadi aku santai aja kalau ada tugas kelompok. Nah dari situ aku mulai dekat dengannya. Awalnya sih cuma ngobrol tentang bahan kuliah, tapi lama kelamaan kita mulai saling ejek, ketawa bersama, dan dia mulai suka usilin aku trus bikin aku ngomel. Pada saat dia tersenyum puas ketika aku ngomel, ketika itu pula aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku juga tidak bisa mendeskripsikan perasaanku itu. Aneh, yang biasanya aku paling males sama orang yang jahil tapi kali ini aku malah seneng banget dijahilin (ya walaupun aku tetep ngomel juga). Dan entah sengaja atau enggak, aku merasa kalau dia makin seneng ngejahilin aku. Walaupun begitu aku mulai merasa nyaman dan senang di dekatnya.
Ntah kapan tepatnya aku mulai merasa nyaman dengannya? dan mengapa aku nyaman dengannya? mungkin karena aku merasa anggap sebagai perempuan (maklum teman-teman ku yang lain selalu merasa kalau aku ini bukan cewek) atau karena dia selalu mendengarkan apa yang aku katakan atau karena dia suka menjahili aku? Ntah lah...yang jelas aku nyaman sekali kalau aku didekatnya, dan rasa seperti ini belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Apakah itu yang disebut cinta?apakah ini rasanya jatuh cinta? tapi perasaan itu segera saja aku tepis karena aku tau diri, siapa diriku dan siapa dia. Bagaikan kaki gunung dan puncak gunung. Selain itu ada benteng kokoh diantara kita yaitu keyakinan. Awalnya aku berusaha untuk menepis rasa itu, aku tetap berharap perasaan itu bukan cinta tapi sekedar teman ataupun sahabat. Tapi semakin aku tepis rasa itu semakin kuat pula rasa itu. Meskipun rasa itu semakin kuat aku tidak mau mengakui kalau itu cinta. Mungkin pada saat itu aku masih takut dan ragu dengan perasaan itu atau aku gengsi untuk mengakui perasaan itu? Jujur saja pada saat itu aku takut untuk merasakan sakitnya patah hati. Aku tidak mau ambil resiko itu, karena kata teman-temanku " sakit hati atau patah hati itu rasa sakit banget dan bikin orang gak selera buat makan."
Lalu aku putuskan saja kalau aku hanya ingin menganggap dia sebagai teman biasa. Okey.....aku mulai pasang aksi cuek luar biasa kalau ada dia. Aku tetep bersikap normal layaknya sikapku ke teman-temanku yang lain. Buat seminggu pertama sih oke, nah minggu berikutnya kita mulai sering berinteraksi lagi (maklum tugas kita mulai banyak). Secara kebetulan kita sering banget duduk bersebelahan. Hingga pada suatu ketika pada saat kita berdua lagi asyik mengomentari presentasi yang di depan kelas, tiba-tiba dia berkata " kamu itu cewek yang kuat". Sontak saja aku kesal dan menjawab "apa maksud kamu?gara-gara aku gendut??" (maklum namanya juga cewek, suka sensitif). Lalu dia menjawab dengan santainya " bukan gitu maksudku, maksudku kamu itu cewek yang tangguh, gak manja kayak cewek lain." Aku pun diam dan tersipu malu. Ya...kata-kata itu yang membuat perasaan yang aku kubur kini hidup kembali.
Semakin ke sini, dia suka berkomentar tentang diriku dan aku malah suka akan komentarnya. Aku selalu saja menuruti apa yang dia sarankan tanpa adanya perlawanan walaupun saran itu bertentangan dengan ku. Padahal biasanya aku sangat keras kepala dan paling tidak suka dengan pendapat yang berbeda denganku, orang yang memberiku saran harus menyertakan alasan yang logis bagiku dan melalui perdebatan sengit tentunya.
Akhirnya egoku mengalah pada perasaanku, dari situlah aku mengakui jika aku jatuh cinta dengannya. Akupun mulai bercerita kepada tiga sahabatku. Mereka agak kaget karena dari dulu aku paling benci sama orang seperti dia, tapi sekarang aku bisa menaruh hati padanya. Mereka mencegahku untuk jatuh cinta kepadanya karena aku dan dia sangat berbeda. Mereka tidak ingin aku sakit hati. Ya, sebenarnya aku pun sangat menyadari hal itu tapi jika hati sudah berbicara apalah daya kita. Mungkin ini yang dinamakan cinta buta. Logika ku sangat lemah kalau didekatnya. Aku berusaha memungkiri jurang pemisah diantara kita. Aku juga sering berpikir bahwa suatu saat nanti kita dapat bersatu. Tapi semua itu runtuh, ketika aku mendapati kalau dia akan pergi. Terlambat sudah aku menyadari perasaan itu. Dia sudah akan pergi, dan kita akan berpisah dalam waktu kurang dari satu bulan.
Sakit rasanya memendam cinta, belum sempat aku ungkapkan.
Ingin sekali aku ungkap semua rasa yang ada di hatiku. Andai saja aku bisa, sayangnya kenyataan tak berkata demikian. Bibir ini sangat gengsi untuk berucap apa yang sebenarnya. Tak terasa dua minggu lagi kita akan benar-benar berpisah. Hingga saat itu pun aku tak ingin bertemu dengannya. Aku takut akan semakin sakit jika dia sudah benar-benar pergi.
bagaikan petir disiang bolong, aku melihat ada pesan masuk dari dia. Rupanya dia mengajakku makan bersama teman-teman, yah bisa dibilang farewell party. Tanpa ragu aku mengiyakan ajakkannya. Setibanya di rumah makan tersebut, aku tak melihat ada sosok nya atau pun teman-temanku, apakah aku salah tempat? atau salah hari?mungkin salah jam? Kulihat lagi pesan singkat darinya, semuanya sudah benar. Tapi kenapa semuanya belum ada yang hadir? Sekitar 5 menit aku tunggu, tak lam kemudian aku melihatnya dari arah parkiran menuju ke arahku. Begitu dia sudah di depan ku, aku bertanya mana yang lain? Diapun juga bingung, karena ternyata dia hanya mengundangku saja. seketika itu pula langsung aku merasa salah tingkah saat mengetahui hal itu. apa aku gak salah denger? apa maksudnya? okay, aku harus tenang, gumamku di dalam hati. Kami pun segera menempati sebuah meja kosong, yang terletak agak jauh dari pengunjung yang lainnya. kami pung langsung memesan makanan ini itu. Sambil menunggu makanannya keluar, kami berbincang kesana kemari, dari mulai membicarakan teman-teman, dosen hingga membicarakan pelajaran. Pembicaran kami pun tetap berlanjut pada saat makanan sudah datang, sesekali tawa pun ikut menghiasi pembicaraan kami. Semua itu berjalan begitu hangat sampai pada saat dia menyatakan perasaannya. Aku tertegun mendengar semua itu, hampir tak bisa kupercaya semua kata-kata yang keluar dari bibirnya. Suasana yang tadinya ceria menjadi kelabu. Mau tak mau aku pun menceritakan tentang perasaanku pada nya. Aku mengakui kalau aku menaruh hati padanya, begitu pula dia ke aku. Baru saja dia mengangkut ke langit, kemudian dia menjatuhkan ku lagi kebumi. Itulah perasaanku pada saat dia bilang," sekarang aku tahu apa yang kamu rasa, begitu pula aku. Tapi bagaimanapun kita tahu kalau kita tak mungkin bersama. Sekalipun kita bersama, itu akan sulit, tentangan dari keluarga pasti besar. Kita bukan anak ABG yang menjalin hubungan tanpa berpikir dimana muaranya. Aku hanya ingin kamu tau kalau aku ini menyayangimu, tapi cukup hanya sampai disini." Kalimat-kalimat itu terus terngiang dalam benakku.
Itulah terakhir kali aku bertemu dengannya. Aku memang tidak mengantarnya ke bandara. Aku hanya mengirimkan pesan singkat semalam sebelum keberangkatannya.
rasa sayang itu masih kusimpan di dalam hati, ku bawa rasa itu untuk menemani hari-hariku tanpanya dan aku harap rasa itu akan membuatku semakin kuat dalam mengarungi samudra kehidupan. Mau tidak mau, aku mengakui kalau ada sesuatu yang hilang dalam hidupku yaitu dia. Aku merasa rindu saat-saat dia menjahili ku, aku kangen melihat senyum puasnya saat aku ngomel, dan aku rindu dengan komentar pedasnya. Tapi yang paling aku rindukan adalah kehadirannya.
Masa lalu, hanyalah masa lalu. Kini perasaan itu mulai memudar, mungkin karena sekarang aku semakin sibuk saja. Hmm...tapi ya sudah lah kita sudah memiliki kehidupan kita masing-masing. Sekali lagi, itu yang dinamakan cinta, kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta dan kapan cinta itu datang dan bersemi dihati kita. Dan aku tidak menyesal jatuh cinta kepadanya karena dia, aku memiliki catatan hati. Serta karena dia pula aku apa itu cinta, bagaimana rasa manis dan pahitnya cinta walau hanya secuil saja.
Senin, 15 September 2014
sahabat itu apa????
Hampir semua orang tau apa itu arti sahabat. Sebenarnya aku pun tau apa itu arti sahabat, tapi aku bingung untuk menamai hubunganku dengan seorang teman ku. Setahuku sahabat itu adalah teman yang sangat dekat, tempat berbagi dalam suka dan duka. Tapi teori ini susah untuk aku terapkan dalam hubunganku dengan satu orang ini, sebut saja "Cempluk", dia mau mendengarkan keluh kesah ku tapi dia jarang sekali berbagi ceritanya kepada ku.
Selain Cempluk aku punya dua orang sahabat lainnya. Kalau mereka sih aku yakin kalau aku adalah sahabat mereka. Tapi yang satu ini sungguh aneh, dibilang bukan sahabat tapi kita sudah klop banget (tapi itu mungkin presepsiku), tapi kalau dibilang sahabat kok Cempluk gak pernah berbagi dengan kita ya?
Sekarang aku dan Cempluk sudah lost contact (mudah-mudahan nulisnya bener) sekitar 10 bulanan gt deh. Nah, pada awal desember tahun 2013, kita masih tetep keep contact walaupun kita udah mulai terpisah akan kesibukan kita masing-masing. Tapi, pada pertengahan bulan si Cempluk bagaikan hilang ditelan bumi. Cempluk suka ngeles aja kalau kita aja kumpul bareng. Padahal dia paling seneng ama yang namanya jalan-jalan dan makan (maklum Cempluk kan calon sosialita alay). Oke penolakan pertama sih kita enggak curiga. Maklum lah namanya juga udah beda kegiatan. Tapi lama kelamaan sih curiga juga. Cempluk suka batalin janji di H-30 menit.
Siapa coba yang gak kesel, dan itu terjadi gak cuma sekali aja. Hmmmm.....kalau kalian gimana coba? Karena itu kita makin cemas dong ma Cempluk, trus kita coba buat contact kluarganya. Respon dari keluarganya sih biasa aja, malah Cempluk bilang ke keluarganya kalau hubungan kita baaik-baik aj. Nah, kita bingung kira-kira apa ya penyebabnya? apa salah kita sampai Cempluk gak mau kita hubungi lagi (sampai saat ini)?
kadang kalau aku inget masa-masa dimana aku ketawa, belanja, makan, nonton, sampai aku curhat tentang Tugas Akhirku dengan Cempluk, aku ngerasa kangen banget ma Cempluk. Andai Cempluk mau cerita tentang kesalahanku ke dia, aku gak bakal mikir lagi untuk ngomong maaf ke Cempluk. Sekarang ini aku pengen ketemu Cempluk dan kita kembali lagi seperti dulu. Apakah itu masih mungkin ???
Selain Cempluk aku punya dua orang sahabat lainnya. Kalau mereka sih aku yakin kalau aku adalah sahabat mereka. Tapi yang satu ini sungguh aneh, dibilang bukan sahabat tapi kita sudah klop banget (tapi itu mungkin presepsiku), tapi kalau dibilang sahabat kok Cempluk gak pernah berbagi dengan kita ya?
Sekarang aku dan Cempluk sudah lost contact (mudah-mudahan nulisnya bener) sekitar 10 bulanan gt deh. Nah, pada awal desember tahun 2013, kita masih tetep keep contact walaupun kita udah mulai terpisah akan kesibukan kita masing-masing. Tapi, pada pertengahan bulan si Cempluk bagaikan hilang ditelan bumi. Cempluk suka ngeles aja kalau kita aja kumpul bareng. Padahal dia paling seneng ama yang namanya jalan-jalan dan makan (maklum Cempluk kan calon sosialita alay). Oke penolakan pertama sih kita enggak curiga. Maklum lah namanya juga udah beda kegiatan. Tapi lama kelamaan sih curiga juga. Cempluk suka batalin janji di H-30 menit.
Siapa coba yang gak kesel, dan itu terjadi gak cuma sekali aja. Hmmmm.....kalau kalian gimana coba? Karena itu kita makin cemas dong ma Cempluk, trus kita coba buat contact kluarganya. Respon dari keluarganya sih biasa aja, malah Cempluk bilang ke keluarganya kalau hubungan kita baaik-baik aj. Nah, kita bingung kira-kira apa ya penyebabnya? apa salah kita sampai Cempluk gak mau kita hubungi lagi (sampai saat ini)?
kadang kalau aku inget masa-masa dimana aku ketawa, belanja, makan, nonton, sampai aku curhat tentang Tugas Akhirku dengan Cempluk, aku ngerasa kangen banget ma Cempluk. Andai Cempluk mau cerita tentang kesalahanku ke dia, aku gak bakal mikir lagi untuk ngomong maaf ke Cempluk. Sekarang ini aku pengen ketemu Cempluk dan kita kembali lagi seperti dulu. Apakah itu masih mungkin ???
Langganan:
Postingan (Atom)