jepang merupakan negara perantauan pertama ku. Sebelum ini tak pernah beranjak dari tanah airku tercinta. Di sini aku memiliki misi khusus untuk memperoleh ilmu dari negeri yang terkenal dengan shinkansen dan kemajuan teknologi nya ini. Aku mengambil program master di salah satu universitas negeri di pulau Kyushu. dari perantauan ini, aku mendapatkan banyak hal baru. Selain pelajaran kuliah, aku juga mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Maklum saja, karena disini aku harus berhadapan dengan banyak sekali type manusia dengan berbagai macam karakteristik, dari berbagai negara, dan dari berbagai latar belakang agama. Jadi, aku diajarkan untuk memiliki rasa toleransi yang tinggi oleh lingkungan sekitarku. kami harus bisa saling menghargai segala perbedaan yang kita miliki. Hal seperti ini lah yang sedikit aku dapat kan pada saat aku hidup di tanah kelahiran ku.
Di kota ini, cukup banyak mahasiswa asing. Aku sendiri memiliki banyak teman asing, mayoritas teman-teman ku berasal dari jepang dan negara-negara asia tenggara. Ada pula beberapa teman dari daratan eropa. Teman setanah air ku juga tak kalah banyaknya. Jumlahnya mencapai sekitar 50 orang termasuk mahasiswa s1,s2,s3 baik fulldegree maupun exchanged student. 70 persen adalah mahasiswa laki-laki. Dan aku termasuk 30 persen sisanya. Semua mahasiswa Indonesia di kota ini aku kenal. Dari semuanya, ada satu orang mahasiswa doctoral tingkat akhir yang biasa dipanggil dengan sebutan mbak Ima.
Setibanya aku di sini, mbak Ima lah orang yang pertama kali mengenalkanku sebuah restoran yang menyajikan makanan aman dikonsumsi oleh muslim seperti kami. Maklum saja, di negara ini hampir semua makanannya mengandung sake, mirin ataupun babi. Jujur saja, pada pertemuan pertama, aku sudah kagum dengan sosok ini. Sosok wanita yang menggenakan pakaian dan hijab syar`i dengan pembawaan yang sangat santun dan bersahaja, ditambah lagi dia adalah mahasiswa s3 dengan umur yang masih muda. Jadi tidak salah kan jika aku menyebutnya dengan sebutan `perfect girl`, sekalipun aku tau tak ada manusia yang sempurna.
Aku tidak pernah menyangka jika aku dapat berteman baik dengannya. Jangankan berteman, hanya untuk sekedar berbincangpun aku sungkan. Wajar saja jika menengok pada diriku sendiri. Aku belum bisa berhijab syar`i. Aku pun belum bisa menjaga lisanku dengan baik. Maklum saja karena teman-temanku didominasi oleh kaum adam. Apalagi pada perbincangan pertama kami, mbak Ima terlihat serius.
Rupanya aku salah dalam menilai sosok yang satu ini. Di beberapa perbincangan berikutnya aku tau kalau dia tidak seserius yang aku bayangkan. Hingga aku mulai tak sungkan lagi untuk membuka obrolan dengan nya di pertemuan-pertemuan berikutnya. Semakin kesini, aku tahu jika dia termasuk orang yang cukup terbuka, enak diajak ngobrol, dan ternyata dia lumayan bisa mengimbangi guyonanku.
not bad.....
Dari hari ke hari kami semakin dekat saja, aku mulai tidak sungkan untuk sekedar berdiskusi, sharing, bercanda bahkan aku mulai menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi. Dia selalu memberikan respon-respon positif kepadaku. Tak jarang juga dia memberikan nasihat-nasihat simple. Masih segar dalam ingatanku, dia sering memberi ku nasihat tentang bagaimana cara bertoleransi, cara berteman dengan lawan jenis, dan bagaimana cara agar aku bisa meredam emosi ku.
Dari situlah, baru aku sadari jika penilaian pertamaku ke mbak ima salah. Walaupun begitu, aku tetap mengaguminya. Aku begitu menyayangi mbak Ima, dia sudah kuanggap sebagai kakak perempuan ku sendiri. Dia juga termasuk salah satu faktor yang ikut andil dalam metamorfosis kehidupanku menuju arah yang lebih baik. Dan sekarang kami sedang bersama-sama berjuang untuk menuntaskan kewajiban kami. Di negeri rantau ini kami bersama untuk saling menguatkan satu sama lain ditengah deru ombak kehidupan yang kuat menyapu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar