Pada saat aku duduk dibangku sekolah (SD,SMP, SMA) aku tidak pernah merasakan jatuh cinta atau suka dengan lawan jenis. Mungkin karena aku termasuk orang yang gak bisa memecah konsentrasi sehingga aku memilih untuk konsen ke prestasi belajarku saja dan mengabaikan sekitarku (yah...bisa dibilang "kuper"). Gimana bisa mikir yang macem-macem, lha setiap harinya aja aku udah capek dengan latihan soal-soal, belum lagi dengan pekerjaan rumah yang cukup menyita waktuku.
Setelah masuk ke perguruan tinggi, aku tetep aja sibuk dengan tugas-tugas dan penyesuaian cara belajarku. Jujur aja, pada saat awal masuk, aku makin sibuk dan gak kepikiran sama sekali tentang naksir lawan jenis. Sampai-sampai teman-teman ku bertanya apakah aku normal?? Ya tentu masih normal lah, aku aja masih suka liat cowok ganteng di TV.
Sebagai cewek, bisa dibilang aku adalah cewek yang cukup mandiri, karena selama aku masih bisa mengerjakan, buat apa minta bantuan orang lain. karena itu adalah kebiasan yang ditanamkan sama orang tua ku terutama bapakku. Aku juga selalu asyik dengan urusanku sendiri. Gimana enggak, aku pernah nolak cowok gara-gara aku terlalu konsen dengan bakso yang ada dimangkokku sehingga aku gak denger apa yang dia omongin, pas dia tanya "iya apa gak?" ya enteng aja aku jawab "enggak". Padahal dia cowok yang sangat baik, alim, dan pinter. Agak nyesel sih nolak orang sebaik itu. Tapi ya sudahlah, mungkin belum jodoh. Dan lagi itu salah nya dia sendiri, nembak ditempat rame dan pas aku lagi konsen ke semangkok bakso yang sangat menggoda.
Hingga akhirnya di semester berikutnya, aku mulai deket dengan teman cowok. Yah,,,,seperti biasa, aku tidak merasa ada sesuatu yang istimewa dengan dia, sama seperti teman-temanku yang lain. Dia termasuk orang yang pendiam, jarang punya temen (dikampusku), dan pinter. Ntah kenapa pada semester tua, dia sering bareng sekelas dengan ku dan sekelompok pula. Kalau aku sih seneng-seneng aja kan dia pintar, jadi aku santai aja kalau ada tugas kelompok. Nah dari situ aku mulai dekat dengannya. Awalnya sih cuma ngobrol tentang bahan kuliah, tapi lama kelamaan kita mulai saling ejek, ketawa bersama, dan dia mulai suka usilin aku trus bikin aku ngomel. Pada saat dia tersenyum puas ketika aku ngomel, ketika itu pula aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku juga tidak bisa mendeskripsikan perasaanku itu. Aneh, yang biasanya aku paling males sama orang yang jahil tapi kali ini aku malah seneng banget dijahilin (ya walaupun aku tetep ngomel juga). Dan entah sengaja atau enggak, aku merasa kalau dia makin seneng ngejahilin aku. Walaupun begitu aku mulai merasa nyaman dan senang di dekatnya.
Ntah kapan tepatnya aku mulai merasa nyaman dengannya? dan mengapa aku nyaman dengannya? mungkin karena aku merasa anggap sebagai perempuan (maklum teman-teman ku yang lain selalu merasa kalau aku ini bukan cewek) atau karena dia selalu mendengarkan apa yang aku katakan atau karena dia suka menjahili aku? Ntah lah...yang jelas aku nyaman sekali kalau aku didekatnya, dan rasa seperti ini belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Apakah itu yang disebut cinta?apakah ini rasanya jatuh cinta? tapi perasaan itu segera saja aku tepis karena aku tau diri, siapa diriku dan siapa dia. Bagaikan kaki gunung dan puncak gunung. Selain itu ada benteng kokoh diantara kita yaitu keyakinan. Awalnya aku berusaha untuk menepis rasa itu, aku tetap berharap perasaan itu bukan cinta tapi sekedar teman ataupun sahabat. Tapi semakin aku tepis rasa itu semakin kuat pula rasa itu. Meskipun rasa itu semakin kuat aku tidak mau mengakui kalau itu cinta. Mungkin pada saat itu aku masih takut dan ragu dengan perasaan itu atau aku gengsi untuk mengakui perasaan itu? Jujur saja pada saat itu aku takut untuk merasakan sakitnya patah hati. Aku tidak mau ambil resiko itu, karena kata teman-temanku " sakit hati atau patah hati itu rasa sakit banget dan bikin orang gak selera buat makan."
Lalu aku putuskan saja kalau aku hanya ingin menganggap dia sebagai teman biasa. Okey.....aku mulai pasang aksi cuek luar biasa kalau ada dia. Aku tetep bersikap normal layaknya sikapku ke teman-temanku yang lain. Buat seminggu pertama sih oke, nah minggu berikutnya kita mulai sering berinteraksi lagi (maklum tugas kita mulai banyak). Secara kebetulan kita sering banget duduk bersebelahan. Hingga pada suatu ketika pada saat kita berdua lagi asyik mengomentari presentasi yang di depan kelas, tiba-tiba dia berkata " kamu itu cewek yang kuat". Sontak saja aku kesal dan menjawab "apa maksud kamu?gara-gara aku gendut??" (maklum namanya juga cewek, suka sensitif). Lalu dia menjawab dengan santainya " bukan gitu maksudku, maksudku kamu itu cewek yang tangguh, gak manja kayak cewek lain." Aku pun diam dan tersipu malu. Ya...kata-kata itu yang membuat perasaan yang aku kubur kini hidup kembali.
Semakin ke sini, dia suka berkomentar tentang diriku dan aku malah suka akan komentarnya. Aku selalu saja menuruti apa yang dia sarankan tanpa adanya perlawanan walaupun saran itu bertentangan dengan ku. Padahal biasanya aku sangat keras kepala dan paling tidak suka dengan pendapat yang berbeda denganku, orang yang memberiku saran harus menyertakan alasan yang logis bagiku dan melalui perdebatan sengit tentunya.
Akhirnya egoku mengalah pada perasaanku, dari situlah aku mengakui jika aku jatuh cinta dengannya. Akupun mulai bercerita kepada tiga sahabatku. Mereka agak kaget karena dari dulu aku paling benci sama orang seperti dia, tapi sekarang aku bisa menaruh hati padanya. Mereka mencegahku untuk jatuh cinta kepadanya karena aku dan dia sangat berbeda. Mereka tidak ingin aku sakit hati. Ya, sebenarnya aku pun sangat menyadari hal itu tapi jika hati sudah berbicara apalah daya kita. Mungkin ini yang dinamakan cinta buta. Logika ku sangat lemah kalau didekatnya. Aku berusaha memungkiri jurang pemisah diantara kita. Aku juga sering berpikir bahwa suatu saat nanti kita dapat bersatu. Tapi semua itu runtuh, ketika aku mendapati kalau dia akan pergi. Terlambat sudah aku menyadari perasaan itu. Dia sudah akan pergi, dan kita akan berpisah dalam waktu kurang dari satu bulan.
Sakit rasanya memendam cinta, belum sempat aku ungkapkan.
Ingin sekali aku ungkap semua rasa yang ada di hatiku. Andai saja aku bisa, sayangnya kenyataan tak berkata demikian. Bibir ini sangat gengsi untuk berucap apa yang sebenarnya. Tak terasa dua minggu lagi kita akan benar-benar berpisah. Hingga saat itu pun aku tak ingin bertemu dengannya. Aku takut akan semakin sakit jika dia sudah benar-benar pergi.
bagaikan petir disiang bolong, aku melihat ada pesan masuk dari dia. Rupanya dia mengajakku makan bersama teman-teman, yah bisa dibilang farewell party. Tanpa ragu aku mengiyakan ajakkannya. Setibanya di rumah makan tersebut, aku tak melihat ada sosok nya atau pun teman-temanku, apakah aku salah tempat? atau salah hari?mungkin salah jam? Kulihat lagi pesan singkat darinya, semuanya sudah benar. Tapi kenapa semuanya belum ada yang hadir? Sekitar 5 menit aku tunggu, tak lam kemudian aku melihatnya dari arah parkiran menuju ke arahku. Begitu dia sudah di depan ku, aku bertanya mana yang lain? Diapun juga bingung, karena ternyata dia hanya mengundangku saja. seketika itu pula langsung aku merasa salah tingkah saat mengetahui hal itu. apa aku gak salah denger? apa maksudnya? okay, aku harus tenang, gumamku di dalam hati. Kami pun segera menempati sebuah meja kosong, yang terletak agak jauh dari pengunjung yang lainnya. kami pung langsung memesan makanan ini itu. Sambil menunggu makanannya keluar, kami berbincang kesana kemari, dari mulai membicarakan teman-teman, dosen hingga membicarakan pelajaran. Pembicaran kami pun tetap berlanjut pada saat makanan sudah datang, sesekali tawa pun ikut menghiasi pembicaraan kami. Semua itu berjalan begitu hangat sampai pada saat dia menyatakan perasaannya. Aku tertegun mendengar semua itu, hampir tak bisa kupercaya semua kata-kata yang keluar dari bibirnya. Suasana yang tadinya ceria menjadi kelabu. Mau tak mau aku pun menceritakan tentang perasaanku pada nya. Aku mengakui kalau aku menaruh hati padanya, begitu pula dia ke aku. Baru saja dia mengangkut ke langit, kemudian dia menjatuhkan ku lagi kebumi. Itulah perasaanku pada saat dia bilang," sekarang aku tahu apa yang kamu rasa, begitu pula aku. Tapi bagaimanapun kita tahu kalau kita tak mungkin bersama. Sekalipun kita bersama, itu akan sulit, tentangan dari keluarga pasti besar. Kita bukan anak ABG yang menjalin hubungan tanpa berpikir dimana muaranya. Aku hanya ingin kamu tau kalau aku ini menyayangimu, tapi cukup hanya sampai disini." Kalimat-kalimat itu terus terngiang dalam benakku.
Itulah terakhir kali aku bertemu dengannya. Aku memang tidak mengantarnya ke bandara. Aku hanya mengirimkan pesan singkat semalam sebelum keberangkatannya.
rasa sayang itu masih kusimpan di dalam hati, ku bawa rasa itu untuk menemani hari-hariku tanpanya dan aku harap rasa itu akan membuatku semakin kuat dalam mengarungi samudra kehidupan. Mau tidak mau, aku mengakui kalau ada sesuatu yang hilang dalam hidupku yaitu dia. Aku merasa rindu saat-saat dia menjahili ku, aku kangen melihat senyum puasnya saat aku ngomel, dan aku rindu dengan komentar pedasnya. Tapi yang paling aku rindukan adalah kehadirannya.
Masa lalu, hanyalah masa lalu. Kini perasaan itu mulai memudar, mungkin karena sekarang aku semakin sibuk saja. Hmm...tapi ya sudah lah kita sudah memiliki kehidupan kita masing-masing. Sekali lagi, itu yang dinamakan cinta, kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta dan kapan cinta itu datang dan bersemi dihati kita. Dan aku tidak menyesal jatuh cinta kepadanya karena dia, aku memiliki catatan hati. Serta karena dia pula aku apa itu cinta, bagaimana rasa manis dan pahitnya cinta walau hanya secuil saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar